Setelah liburan Idulfitri 1446 Hijriyah, nilai tukar rupiah diperkirakan akan mengalami penurunan sampai hampir mencapai angka Rp17 ribu untuk setiap Dollar AS di awal Selasa (8/4/2025).
Apabila diamati, nilai tukar rupiah mengalami penurunan dan bergerak lemah secara signifikan saat pembukaan perdagangan hari Senin (7/4/2025). Pada awal sesi tersebut, rupiah mencapai posisi Rp16.898 untuk setiap dolar AS.
Berdasarkan informasi dari Bloomberg pada hari Senin, tanggal 7 April 2025 pukul 09:13 WIB, nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp16.920,5 untuk satu dolar AS di pasaran spot. Hal ini menunjukkan penurunan sebesar 1,61% atau dengan selisih 268 poin jika dibandingkan dengan harga tutup sebelumnya.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) sempat mencapai angka 17.000 per dolar Amerika Serikat.
Sebagai informasi, NDF adalah jenis kontrak derivatif valas yang membolehkan kedua belah pihak untuk bertukar mata uang pada tingkat tukar tertentu di waktu akan datang.
Analis pasar mata uang Lukman Leong mengatakan bahwa tekanan pada rupiah tetap signifikan.
"Menilik suasana hati penolakan risiko yang amat tinggi di pasaran serta beberapa mata uang negara berkembangan yang terus mengalami pelemahan signifikan pada awal hari ini," jelas Lukman ketika berbicara dengan Kompas.com, Senin (7/4/2025).
Dia menyebutkan tambahan bahwa suasana hati risiko-tinggi muncul akibat pernyataan dari Menteri Perdagangan Amerika Serikat (AS), Howard Lutnick, yang menggarisbawahi jika keputusan tariff tak akan diundur.
Risk off mengindikasikan kondisi di mana para investor menarik investasi mereka dari aset yang memiliki tingkat risiko tinggi dan lebih memilih untuk menyimpan dana dalam bentuk instrumen safe haven, yaitu dollar AS, emas, atau surat utang pemerintah.
Lukman juga menunjukkan bahwa Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa perjanjian perdagangan baru dapat dicapai apabila defisit neraca perdagangan Amerika Serikat berhasil diselesaikan.
Di samping itu, tensi dari perang dagang diprediksi akan memburuk. Tak hanya China, bahkan Uni Eropa pun diyakini memiliki peluang untuk mengambil tindakan balasan terhadap tarif impor Amerika Serikat dengan menerapkan kebijakan yang sejenis.
Pada saat yang sama, berbagai mata uang penting malah memperkuat posisi mereka melawan dolar Amerika Serikat di awal hari ini. Kekuatan tersebut terlihat pada yuan Cina (CNY), yen Jepang (JPY), euro (EUR), serta pound sterling Britania Raya (GBP).
BI Masuk ke Pasar pada Hari Jatuh Tempo
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung tanggal 7 April 2025 telah mengambil keputusan untuk melakukan campur tangan di pasar luar negeri (dikenal juga sebagai Non Deliverable Forward / NDF). Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap adanya tekanan eksternal yang signifikan.
Seperti yang dikenal luas, keputusan pemerintah Amerika Serikat untuk mengenakan tariff balasan pada tanggal 2 April 2025, serta tindakan balasan berupa pengenaan tariff oleh pemerintahan China pada tanggal 4 April 2025, telah memicu goncangan di pasar finansial dunia.
Salah satu faktor meliputi aliran modal yang keluar serta peningkatan tekanan terhadap depresiasi mata uang di berbagai negara, terutama di pasar negara berkembang atau emerging markets.
Akibatnya, ada tekanan pada kurs Rupiah di pasar NDF saat pasar lokal sedang longgar karena perayaan Idulfitri 1446 Hijriyah.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebutkan bahwa intervensi dalam pasar off-shore (Non Deliverable Forward / NDF) diproses oleh Bank Indonesia dengan konsistensi di pasaran Asia, Eropa, serta New York.
BI juga akan mengambil tindakan campur tangan yang kuat di dalam negeri mulai dari saat pembukaan pertama pada tanggal 8 April 2025 melalui penyeberangan batas di bursa mata uang asing (Spot dan DNDF), termasuk pula membeli surat berharga negara di pasaran sekunder.
BI juga akan mengoptimalkan alat-alat likuiditas dalam rupiah guna menjamin ketersediaan dana yang cukup di pasaran uang dan sektor perbankan dalam negeri.
"Deretan tindakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia bertujuan untuk mengatur kembali nilai tukar Rupiah serta mempertahankan keyakinan para pemain pasar dan investor terhadap Indonesia," jelas Ramdan.
Artikel ini sudah dipublikasikan di Kompas.com