Apabila seseorang menanyakan, "Apa pertanyaan paling sulit yang pernah Anda hadapi saat wawancara pekerjaan?", tentu saja saya sudah tidak ingat lagi. Pasalnya, wawancara kerja terakhir yang saya lewati terjadi pada tahun 2006 atau tepatnya 19 tahun silam.
Namun jika ditanyakan, "Apakah memiliki pengalaman sebagai HRD dalam mewawancara Generasi Z?", maka jawabannya adalah, "Masih terdapat sejumlah pengalaman yang tertanam dalam memori saya."
Karena periode 2017-2018, saya sempat menjadi Manajer SDM di salah satu Pabrikan Asing dari Jepang. Saat itu, Presiden Direktur memilihku untuk mengisi posisi Manajer SDM secara temporary (sementara), sejak Mantan Manajer SDM pertamanya telah mengundurkan diri dan calon pengganti masih belum ditemukan.
Sejujurnya, pada masa tersebut merupakan periode paling berat dalam seluruh perjalanan karier saya sebagai pekerja pabrik karena harus menangani orang, bukannya produk. Karena latar belakangi saya adalah Quality Control (QC), yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan kualitas dari barang-barang hasil produksi pabrikan.
Apabila menangani Produk dan terdapat Barang yang reject (tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan), penyelesaiannya sederhana: Barang tersebut dapat langsung dipindahkan dan dikeluarkan. Namun, ketika berhadapan dengan Manusia, pendekatan semacam itu tak bisa dijalankan. Bagaimana mungkin jika ada Manusia (pekerja) yang belum mencapai standar tertentu kemudian dilepaskan begitu saja?
Pengalaman wawancara dengan generasi Z (lahir antara 1997 hingga 2012) sangat bervariasi karena saat itu perusahaan kami kerap kali melakukan perekrutan karyawan baru yang akan ditugaskan ke bagian produksi. Umumnya, giliran saya untuk melanjuti proses wawancara ketika calon pekerja telah berhasil melewati tahapan penyeleksian prasyarat pertama tersebut.
Saya sangat mengerti kalau Para Pelamar Kerja, sebagian besar adalah alumni SMA/SMK, bisa merasakan gugup saat bertemu dengan Manajer HRD dalam sesi wawancara. Meskipun penampilanku cukup baik dan bukan tipe orang yang menakutkan...
Umumnya di awal percakapan, saya senantiasa memberikan nasihat kepada mereka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya secara jujur dan tenang, tanpa perlu memberikan jawaban yang formal namun tidak mencerminkan kenyataan.
Di luar QC, saya memiliki dasar sebagai auditor, jadi terkadang saya melakukan penyesuaian pada pertanyaan sesuai dengan jawaban Pelamar Kerja. Di sinilah perasaan belas kasih muncul saat mereka sudah mulai kesulitan menanggapi pertanyaan-pertanyaan tajam yang saya ajukan.
Hasil kesimpulanku waktu itu ialah generasi Z cenderung dikatakan kurang bergaul, yaitu mereka memiliki sedikit pengalaman dalam bersosialisasi, berdiskusi, atau berdebate dengan individu-individu yang posisinya lebih senior dan pemikirannya lebih terbuka.
Bisa jadi mereka lebih sering berbicara dengan teman-temannya atau saudara sekelas di sekolah menengah atas/vokasi. Atau bahkan kondisi yang lebih buruk adalah bahwa mayoritas pembicaraan mereka terjadi melalui media sosial.
Berbeda sekali, diskusi langsung tatap muka dibandingkan diskusi melalui media sosial karena platform-media sosial lebih menekankan pada tulisan daripada komunikasi verbal. Jadi, apabila kita belum terbiasa berinteraksi dengan orang-orang yang baru ditemuian, tentunya akan merasa kesulitan.
Berikut adalah saran bagi mereka yang merasa kesulitan dalam aspek berinteraksi dengan orang lain: ikutilah pelatihan public speaking sebelum memasuki dunia pekerjaan. Kemampuan komunikasi lisan sangat penting dan menjadi nilai tambah di lingkungan profesional.
Berikut ini saya berikan sebagian dari beberapa pertanyaan populer pada wawancara pekerjaan yang terkadang menjengkelkan serta sukar untuk direspon:
Bagaimana Anda menjabarkan tentang diri Anda hanya dengan menggunakan 3 kata?Pertanyaan ini bertujuan untuk mengungkap sifat-sifat Anda pribadi, yaitu penting bagi Anda untuk benar-benar memahami diri sendiri terlebih dahulu sebelum mencoba memahami orang lain.
Apakah ada hal-hal yang menjadi keunggulan atau kelemahan Anda?Pertanyaan ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman Anda tentang kondisi diri sendiri serta strategi penanganan masalah pribadi dalam aktivitas harian.
Kenapa Anda berminat untuk bergabung dengan perusahaan kami?Pertanyaan ini bertujuan untuk mengukur tingkat komitmen Anda dalam memberikan kontribusi kepada perusahaan serta sejauhmana pemahaman Anda tentang perusahaan yang dilamar.
Dapatkah Anda menjelaskan tentang tugas-tugas yang berhubungan dengan posisi yang Anda lamar tersebut?Untuk menguji sejauh mana persiapan Anda dalam menduduki jabatan yang dilamar, pastikan jawaban Anda bukan sembarang tanggapan agar tidak memengaruhi penilaian negatif. Seperti halnya pernikahan, bagaimana mungkin seseorang bisa melangsungkannya tanpa benar-benar memahami pasangannya dan kehidupan rumah tangga yang akan dijalani bersama?
Bagaimana menilai jenis bos atau rekan kerja yang paling tidak baik dan paling berhasil ketika berkolaborasi dengan Anda?Pertanyaan ini cukup sulit karena menceritakan kekurangan mantan bos atau rekan kerja bisa menurunkan penilaian Anda. Mengungkap rahasia orang lain merupakan tindakan yang tak terpuji.
Bagaimana definisi keberhasilan menurut pendapat Anda?Hal ini dapat dikategorikan sebagai pertanyaan jebakan sebab apabila Anda merespons dengan mengungkapkan cita-cita di masa depan, sang pewawancara mungkin menyimpulkan bahwa Anda hanya melamar posisi tersebut sementara dan berencana untuk mencari peluang kerja yang lebih baik di kemudian hari.
Oleh karena itu, Anda hanya perlu menyajikan deskripsi yang tak begitu mendetail tentang masa depan sebab kesuksesan dapat diartikan sebagai pencapaian tugas-tugas sederhana secara bertahap. Tujuan kecil yang telah direncanakan untuk semingir atau sebulan mendatang bisa mengindikasikan kesuksesan tersebut.
Selamat sukses ya Generasi Z...
*